Cerpen: Sepucuk Surat dari Tanah Merdeka

Namaku Tom. Tom saja. Usiaku empat puluh tahun. Aku bukan pahlawan besar yang tertulis dalam buku sejarah. Aku hanyalah seorang penjaga sekolah desa, yang setiap harinya menimba air dan menyapu ruang kelas demi anak-anak bisa belajar dengan tenang, di tengah suara tembakan dan ketakutan.

Ini tahun 1947. Tentara Belanda baru saja kembali setelah Proklamasi dikumandangkan dua tahun lalu. Mereka tidak percaya kami bisa berdiri sendiri. Dan kami… tidak percaya mereka masih bisa kembali setelah kami mengusir mereka dengan darah.

Aku tidak pernah mengangkat senjata. Tapi aku punya pena. Dan hatiku yang luka.

Setiap malam, aku menulis di balik lembaran kertas bekas laporan sekolah. Kukumpulkan tulisan-tulisanku dalam satu ikatan, dan kusembunyikan di balik papan dinding rumah. Aku tahu, mungkin suatu hari aku akan mati. Tapi kata-kata… akan hidup lebih lama dariku.

Anakku, Jatmiko, baru berumur delapan tahun saat istriku, Kartinah, tertembak peluru nyasar. Ia sedang berjalan pulang dari pasar. Tak ada peringatan. Tak ada alasan. Hanya peluru dan tubuh yang rebah.

Sejak itu, Jatmiko tak banyak bicara.

“Kenapa ibu harus mati, Ayah?” tanyanya suatu malam.

Aku menggigit bibir. “Karena ibu hidup di tanah yang belum bebas.”

“Bukannya kita sudah merdeka?”Aku menatap matanya yang jernih tapi penuh luka.

“Belum, Nak. Kita baru mengaku merdeka. Tapi mereka belum mengakuinya.”

Jatmiko diam. Lalu memelukku pelan. Dan malam itu, aku menangis, bukan karena takut, tapi karena aku tahu anakku baru saja kehilangan sesuatu yang tak akan bisa dikembalikan: rasa aman.

Setiap pagi aku tetap datang ke sekolah. Walau kadang tak ada murid. Kadang hanya dua atau tiga yang datang. Kadang hanya aku sendiri yang duduk di kursi kayu reyot sambil membaca surat kabar lama yang sudah kuning. Tapi aku tak pernah absen. Karena dalam hatiku, selama masih ada satu anak yang mau belajar, maka negeri ini masih punya harapan.

Suatu hari, seorang anak perempuan datang, menangis karena bukunya dirampas tentara.

“Mereka bilang belajar itu haram bagi pribumi,” katanya.

Aku menggenggam bahunya.

“Justru karena mereka berkata begitu, kita harus lebih keras belajar. Agar kita tahu… siapa yang sebenarnya paling takut pada ilmu.”

Di malam-malam sepi, aku sering menatap langit sambil menulis.

“Jika suatu hari kalian hidup di zaman damai, tolong jangan lupa… bahwa kedamaian itu dibeli oleh nyawa.”

“Jangan pernah malu menjadi Indonesia. Malulah jika kalian menjadi Indonesia yang lupa.”

Tahun 1948. Perang semakin menjadi. Sekolah kami dibakar. Buku-buku dibakar. Aku menangis saat melihat huruf-huruf terbakar, karena aku tahu: bagi bangsa yang baru belajar berdiri, pengetahuan adalah senjata paling ampuh. Dan mereka membakarnya.

Aku dan beberapa pemuda berinisiatif membuat sekolah darurat di bawah pohon bambu. Kami sebut itu Madrasah Merdeka. Bukan karena resmi, tapi karena kami mengajarkan kemerdekaan: berpikir, menulis, dan bermimpi.

Anak-anak mulai kembali datang. Mereka menulis dengan arang. Membaca dari potongan koran. Tapi mata mereka menyala. Dan saat mata itu menyala, aku tahu: penjajah takkan pernah benar-benar menang.

Pada akhir tahun itu, aku ditangkap. Katanya karena “menyebarkan paham nasionalisme”. Mereka tak tahu bahwa aku bukan menyebarkan paham. Aku hanya menyebarkan kesadaran.

Di dalam sel, aku dipukul. Dihina. Tapi aku tetap diam. Karena aku tahu: semakin aku dibungkam, semakin suara ini akan menemukan jalannya.

Setiap malam, aku menulis. Di balik sobekan bungkusan nasi. Di belakang dinding sel. Kadang dengan darah. Kadang dengan air liur.

“Tanah ini tidak butuh lebih banyak orang pintar. Ia butuh lebih banyak orang jujur.”

“Kemerdekaan sejati bukan saat bendera dikibarkan. Tapi saat kita merasa punya tanah yang layak diperjuangkan.”

Tahun 1949. Aku dibebaskan. Tanpa alasan. Tanpa penjelasan. Tapi aku tahu: mereka pikir aku sudah tidak punya pengaruh. Mereka tidak tahu bahwa ide bukan pohon yang bisa ditebang. Ia akar yang menyebar diam-diam.

Aku pulang ke desa. Sekolah kami tinggal puing. Tapi anak-anak masih datang. Dan kali ini, mereka yang mengajar satu sama lain. Seperti api kecil yang menyulut nyala lebih besar.

Aku berdiri di tengah reruntuhan, menatap langit pagi. Lalu kutulis kalimat terakhir di buku catatanku.

“Jika kalian membaca ini dari masa depan, tolong jangan biarkan kami menjadi sekadar nama jalan atau patung di taman kota. Kami bukan legenda. Kami nyata. Dan kami pernah bermimpi… kalian akan lebih mencintai negeri ini daripada kami.”

70 tahun kemudian…

Sebuah surat ditemukan di balik papan rumah tua. Rumah itu sudah kosong sejak tahun 1950. Surat itu ditulis oleh seseorang bernama Tom. Isinya ditulis dengan tinta pudar, tapi kata-katanya masih membakar.

“Kepada siapa pun yang membaca ini, jika kalian hidup di tanah yang damai tapi tak mau menjaga perdamaian itu, maka kalian lebih kejam dari penjajah. Karena kalian membiarkan negeri ini mati… bukan karena peluru, tapi karena lupa.”

Surat itu kini terpajang di museum sejarah nasional. Orang-orang membacanya, sebagian hanya sekilas, sebagian diam sejenak.

Tapi masih banyak yang berjalan sambil bermain ponsel, selfie di depan patung pahlawan, lalu pulang tanpa membawa satu pun rasa syukur.

Dan entah di mana, mungkin arwah Tom masih mengawasi dari langit negerinya. Bertanya-tanya,

“Untuk negeri yang kami perjuangkan dengan cinta dan nyawa… mengapa kalian menjaganya dengan abai?” []

Agung Wahyudi, Penyusun Novel Jejak Sunyi (sebuah novel perjalanan aktivis dakwah).

One thought on “Cerpen: Sepucuk Surat dari Tanah Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *