LENTERA.PRESS – 80 tahun bukanlah umur kemerdekaan suatu bangsa yang besar dengan penduduknya dua ratus juta lebih. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah populasi Indonesia per tahun 2025 adalah sebanyak 281,6 juta jiwa penduduk.
Umur yang sangat gemilang untuk merefleksi suatu capaian dan suatu prestasi bangsa yang dampaknya kepada rakyatnya.
Tan Malaka pernah bilang “kemerdekaan Indonesia hanya dapat di capai oleh rakyat yang sadar, terdidik dan berorganisasi. Tanpa pengetahuan dan pendidikan, kemerdekaan hanyalah kata kosong”.
Kalimat yang sederhana dari Tan Malaka memberikan satu refleksi bahwa. Indonesia dengan kondisi, Korupsi dimana-mana, hukum tidak adil, sejahtera jauh dari ekspektasi, negara tempat rakyat berharap, tapi semua hanya janji belaka pada musim kampanye.
Janji hanya pembodohan saja kepada rakyat, pejabat setelah berkuasa mengancam rakyat dengan diskriminasi, di hilangkan tanpa jejak, pembunuhan dimana-mana.
Yang harusnya jadi raja adalah rakyat dan pelayan adalah pejabat, mereka di gaji dari uang rakyat. Tapi balasan bukan pelayanan akan tetapi suatu sistem perbudakan, mengurus KTP sebagai Identitas Ribet bahkan sampai bayar inilah itulah, melapor ke Polisi mala buta dan seolah tak mau tau kesusahan rakyat, mala ironinya terkadang mala meminta bayaran untuk pencarian barang kehilangan. Bukan cerita fiktif tapi ini pengalaman penulis pada 2019 silang saya melaporkan hp saya dan 3 teman yang kecurian hp bersamaan, setelah melapor mala di minta uang sejuta untuk awal pencarian. Tercengah, juga heran dan bahkan kaget, waktu itu masih mahasiswa semester 5 dimana kondisi keuangan di akhir masa perkuliahan mala di palaki dengan dalih biaya oprasional pencarian.
Apa begini pengayom rakyat? apa ini yang di harapkan rakyat?
Terus untuk apa uang pajak tanah, pajak kendaraan, dan uang rakyat yang di kumpulkan negara yang jumlahnya, milyaran bahkan Triliunan. Untuk apa dan kemana? Bukan kan kami rakyat memberikan itu semua untuk menjamin keamanan, keadilan, kesejahteraan dan pelayanan yang maksimal bagi rakyat?
Entahlah mau merayakan apa di umur 80 tahun kemerdekaan. Apa dengan huru hara lomba 17 an yang hanya sebuah pelampiasan rakyat dari jepitan sistem yang sangat jauh dari harapan, atau hanya sekedar melepas mumet rakyat dari kondisi bangsa yang sakit, korupsi triliunan di penjara setahun, duatahun, atau satu koma lima tahun. Tapi seorang ayah yang mencuri untuk menghidupi anak dan istrinya di penjara lima belas tahun bahkan sampai seumur hidup, seorang ayah yang mencuri ubi kayu di siksa dan intimidasi oleh polisi dan di penjara seumur hidup.
Apa itu semua yang harus di rayakan di umur 80 tahun Merdeka?
Untuk siapa kemerdekaan hakikatnya?
Merayakan pun modal dari rakyat membeli bendera, tiang dan cat pagar dan sebagainya pada perayaan kemerdekaan. Dan ancaman bagi yang tidak mengibarkan bendera akan di tangkap.
Adapa dengan bangsaku yang sakit ini? Mungkin akan seperti ini atau kah menunggu rakyat mengamuk karena di pajaki tanpa ada pelayanan yang memberikan, keadilan, kemanan, kemakmuran, ksejahteraan. Seperti yang viral hari ini, beberapa kepala Daerah menaikkan Pajak yang luar biasa naiknya tanp memikirkan rakyatnya, seperti di Kabupaten Pati, Kabupaten Bone, dan beberapa kabupaten lainya yang bahkan ada menaikan PBB 100%. Inikah yang di bilang memajaki rakyat dengan alasan dan dalih pembangunan? Pembangunan yang mana? Biayah pendidikan semakin mahal kemiskinan dimana-mana.
Bulukumba 18 Agustus 2025
Oleh: Muh Imran, Aktivis pemuda dan pemerhati kebijakan publik
Excellent article. I absolutely appreciate this site.
Keep it up! https://glassi-Info.Blogspot.com/2025/08/deposits-and-withdrawals-methods-in.html