LENTERA.PRESS – Fenomena menurunnya kemampuan berpikir (kognitif) dan kepekaan sosial kini menjadi masalah nyata di kalangan mahasiswa. Di kampus, banyak mahasiswa yang terlalu bersandar pada Artificial Intelligence (AI) untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka, seperti membuat perhitungan untung rugi usaha tani atau menyusun rencana bisnis. Kebiasaan ini membuat otak mahasiswa yang seharusnya diasah untuk menganalisis dan memecahkan masalah menjadi malas. Mereka cenderung langsung menerima hasil jadi dari komputer tanpa proses berpikir mendalam. Akibatnya, meskipun tugas selesai dengan cepat, pemahaman menjadi dangkal dan kemampuan berpikir mandiri pun berkurang.
Masalah ini semakin diperparah oleh kegemaran bermedia sosial. Waktu yang dihabiskan untuk mencari pengakuan di dunia maya membuat mahasiswa sibuk dengan dirinya sendiri dan melupakan lingkungan sekitar. Interaksi langsung dengan orang lain tergantikan oleh layar ponsel. Mahasiswa menjadi kurang peka terhadap masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Rasa kebersamaan dan semangat gotong royong kian memudar karena kebiasaan menyendiri di depan gawai. Padahal, seorang calon sarjana tidak hanya dituntut untuk pintar secara akademik, tetapi juga mampu bergaul, bernegosiasi, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mahasiswa masa kini harus berjuang keras untuk mengembalikan kemampuan berpikir mandiri dan menumbuhkan kepekaan sosial yang mulai hilang akibat dominasi dunia digital.
Ruang kuliah seharusnya menjadi ladang penempaan ilmu dan karakter. Namun, kesadaran akan tanggung jawab dan etika dasar sebagai mahasiswa—sebagai agent of change—kian menipis. Masalah yang dihadapi kini bukan sekadar kesulitan memahami mata kuliah, tetapi juga kegagalan dalam menjaga adab dan disiplin. Salah satu indikasi kemerosotan tersebut adalah ketidakdisiplinan waktu. Kebiasaan datang terlambat ke kelas menjadi pemandangan umum. Keterlambatan tidak hanya merugikan diri sendiri karena kehilangan materi, tetapi juga menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap waktu dosen dan mahasiswa lain yang telah hadir tepat waktu. Sikap ini mencerminkan mentalitas yang tidak siap menghadapi dunia kerja profesional yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan.
Selain itu, penampilan di kampus sering kali mengabaikan norma kesopanan dan keseriusan belajar. Kampus bukanlah panggung fashion show. Tren berpakaian glamor atau berlebihan serta penggunaan rias wajah yang terlalu mencolok mengalihkan fokus dari esensi utama mahasiswa: belajar dan berdiskusi. Pakaian yang seharusnya rapi dan santun sebagai simbol keseriusan akademik kini diabaikan. Puncaknya, penggunaan handphone di dalam kelas menjadi bentuk pelecehan tidak langsung terhadap dosen maupun ilmu yang disampaikan. Bermain ponsel ketika dosen sedang mengajar bukan hanya menunjukkan kurangnya fokus, tetapi juga mencerminkan ketidaksantunan dan arogansi, seolah kehadiran dosen dan materi kuliah bisa diabaikan demi layar digital.
Masalah-masalah tersebut bukanlah pelanggaran kecil, melainkan cerminan dari menurunnya kesadaran diri akan peran dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Mahasiswa adalah calon pemimpin dan profesional masa depan. Kedisiplinan waktu, etika berpakaian, serta kemampuan menghargai proses belajar adalah pondasi karakter yang harus dibangun. Jika tanggung jawab dasar ini saja gagal dipenuhi, bagaimana mungkin mereka mampu menjadi agent of change yang disiplin, fokus, dan beretika di masyarakat kelak? Perubahan harus dimulai dari kesadaran diri masing-masing, bahkan dari hal-hal sederhana di dalam ruang kelas.
Di tengah hiruk-pikuk dunia perkuliahan, muncul pula fenomena “ego intelektual” yang berlebihan. Mahasiswa tipe ini cenderung egois dan merasa paling pintar, tanpa memberi ruang bagi pandangan orang lain. Mereka belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk menunjukkan bahwa mereka lebih tahu. Akibatnya, mereka sering menyepelekan dosen maupun rekan sekelas.
Diskusi di kelas bukan lagi ajang bertukar gagasan, melainkan arena untuk memamerkan pengetahuan dangkal. Ketika dikritik, mereka sulit menerima masukan. Alih-alih introspeksi, mereka justru membela diri, menyalahkan sistem, teman, atau dosen demi menjaga citra sempurna. Sikap seperti ini sangat berbahaya, karena dunia kerja dan masyarakat menuntut kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta keterbukaan terhadap kritik. Mahasiswa sejati seharusnya menyadari bahwa kritik adalah bagian dari pertumbuhan diri.
Selain ego intelektual, mahasiswa masa kini juga hidup dalam jeratan standar media sosial yang semu. Mereka terjebak dalam “sangkar emas digital”, terikat oleh aturan tak tertulis yang menekan potensi diri. Tekanan untuk tampil sesuai tren membuat banyak mahasiswa kehilangan jati diri. Mereka merasa wajib mengikuti gaya hidup yang “aesthetic” atau bergengsi demi mendapatkan validasi berupa likes dan followers.
Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan kemampuan akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat terkuras untuk membangun citra palsu. Fokus belajar tergantikan oleh obsesi terhadap penampilan dan gaya hidup konsumtif, yang pada akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan diri dan hilangnya identitas asli.
Di sisi lain, muncul pula kelompok mahasiswa yang tampak brilian di permukaan. Mereka lancar berbicara, fasih menjawab pertanyaan, dan memiliki IPK tinggi. Namun di balik itu, tersimpan masalah mendasar: “kepandaian semu”. Mahasiswa tipe ini hanya pandai menghafal, bukan memahami. Mereka mampu mengulang teori dan definisi dari buku atau slide dosen, tetapi ketika diminta menjelaskan maknanya, mereka kebingungan.
Mereka tidak mampu mengaitkan teori dengan realitas, atau menjelaskan relevansi pengetahuan yang dipelajarinya. Pendidikan yang hanya melahirkan “mesin penghafal” seperti ini tidak akan mampu bersaing di era modern yang menuntut kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Dunia tidak membutuhkan penghafal teori, melainkan pemecah masalah dan pencipta solusi.
Namun demikian, harapan belum hilang. Mahasiswa ideal masih ada dan akan selalu ada. Hanya saja, jumlahnya mungkin semakin sedikit jika tidak ada perubahan yang signifikan. Diperlukan upaya bersama antara dosen, institusi, dan mahasiswa sendiri untuk menumbuhkan kembali semangat belajar sejati, disiplin, dan kepekaan sosial. Tanpa perubahan radikal dalam cara berpikir dan berperilaku, mimpi membangun generasi emas hanya akan berubah menjadi generasi cemas.
“Seiring dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, yang bertumbuh seharusnya adalah kebijaksanaan, bukan keangkuhan.”


Susah Krn biasa ada Mahasiswa banyak bertanya dikelas mengajak diskusi, malah termarjinalkan 🤣