LENTERA.PRESS — Di balik deretan film horor yang memecahkan rekor penonton dan karya yang menggugah kegelisahan batin, Joko Anwar tampil sebagai sosok pencerita yang bersahaja, rendah hati, dan kaya akan refleksi filosofis tentang kehidupan.
Dalam satu kesempatan Joko mengungkap pandangan hidup dan prinsip berkaryanya yang telah menuntunnya bertahan dan berkembang selama lebih dari dua dekade di industri perfilman Indonesia.
Tiada Konsep “Puncak Gunung”
Bagi sebagian orang, kesuksesan kerap dimaknai sebagai capaian tertinggi ibarat mendaki hingga ke puncak gunung. Namun, bagi Joko Anwar, konsep “puncak” justru merupakan ilusi yang berpotensi menjerumuskan.
“Kalau aku prinsipnya, aku akan bikin titik yang ingin aku capai, sebelum aku mencapai titik itu aku majuin lagi supaya gak dapet,” ujarnya seperti dilansir dari Kanal YouTube Suara Berkelas, Jumat (6/2/2026).
“Kalau kita memandang karier kita sebagai puncak gunung, setelah puncak pasti akan turun kan? Jadi, aku lebih memilih bukan lebih tinggi tapi lebih jauh,” lanjut Joko.
Perfeksionisme sebagai Delusi
Meski kerap dilabeli sebagai sutradara perfeksionis, Joko Anwar justru memandang kesempurnaan sebagai sebuah delusi.
Menurutnya, ketidaksempurnaan adalah realitas yang paling jujur dalam kehidupan.
“Aku tidak pernah percaya perfection. Justru ketika aku buat film aku mencari imperfection. Karena imperfection real, perfection itu delusi,” tuturnya.
Ia meyakini bahwa melalui celah-celah ketidaksempurnaan itulah kehidupan dapat direpresentasikan secara lebih otentik dalam karya seni.
Ketika ditanya apakah ia pernah menyesali film-film lamanya, Joko menjawab tegas bahwa penyesalan tidak pernah menjadi bagian dari proses kreatifnya. Baginya, setiap karya lahir dari upaya maksimal yang telah ia kerahkan secara fisik, mental, dan spiritual pada masanya.
Hidup Tanpa Ketakutan
Tema ketakutan kerap muncul dalam film-film Joko Anwar. Ia mengutip sebuah prinsip dari film Strictly Ballroom: A life lived in fear is a life halmasanya, hidup yang dijalani dalam ketakutan adalah hidup yang hanya dijalani separuh.
Menurutnya, bentuk hukuman atau penderitaan paling berat bagi setiap individu berbeda-beda, bergantung pada apa yang paling mereka takuti. Namun, satu hal yang pasti, orang yang hidup dalam ketakutan adalah mereka yang paling menderita.
Bertahan Dua Dekade dengan Kerendahan Hati
Di industri kreatif yang kerap dipenuhi ego, Joko Anwar menilai kerendahan hati sebagai kunci utama untuk tetap relevan. Ia mengaku hanya ingin bekerja dengan orang-orang yang rendah hati karena merekalah yang terus membuka diri untuk belajar dan bertumbuh.
“Orang yang merasa dirinya sudah paling hebat adalah yang paling berbahaya. Mereka berhenti belajar. Justru pembelajaran paling sulit bukan ketika gagal, melainkan ketika sedang berada di puncak kesuksesan,” ujarnya.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Sekadar Mengikuti Arus
Salah satu nasihat terburuk yang pernah ia dengar adalah anjuran untuk selalu mengikuti selera pasar.
Menurut Joko, pasar bersifat fluktuatif dan tidak pernah benar-benar stabil. Jika seorang seniman hanya mengejar tren, ia berisiko kehilangan suara dan identitasnya sendiri.
“Ketika kita ikut karya karena ikut trend ketika karyanya akan ditampilkan trendnya sudah lewat. Jadi, setia saja pada apa yang ingin disuarakan,” pungkasnya. []

