LENTERA.PRESS – Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, sedang berada pada titik krusial dalam perjalanan sejarahnya. Bonus demografi yang kini kita miliki dengan jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia nonproduktif membuka peluang besar untuk melompat maju menjadi bangsa besar. Namun, peluang ini tidak akan otomatis menjadi kenyataan jika kita tidak mengelolanya dengan baik. Dan mengelola bonus demografi berarti mengelola kualitas manusianya. Dengan kata lain, masa depan Indonesia sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan.
Visi Indonesia Emas 2045 yang dirumuskan Bappenas, dengan empat pilar utama yang digagas Presiden Joko Widodo, yaitu pembangunan manusia dan IPTEK, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, dan ketahanan nasional. Pada dasarnya berpijak pada satu hal: SDM yang unggul. Kita boleh membangun infrastruktur, memperbanyak industri, dan membuka investasi, tetapi tanpa manusia yang berkualitas, semuanya hanya menjadi bangunan tanpa ruh.
Pendidikan: Investasi yang Terlupakan
Berbicara tentang Indonesia maju berarti berbicara tentang kemampuan manusia Indonesia. Pendidikan adalah fondasinya. Sayangnya, pendidikan sering diperlakukan sebagai biaya, bukan investasi. Padahal pendidikan adalah inkubator bagi ilmu, moralitas, dan etika. Di dalam tradisi Islam, posisi pendidikan bahkan begitu mulia hingga ayat pertama Al-Qur’an adalah “Iqra” (bacalah). Ilmu dipandang sebagai jalan untuk memuliakan manusia, bahkan derajat orang berilmu ditinggikan oleh Allah Swt.
Namun, apakah realitas pendidikan kita sudah memuliakan manusia? Apakah pendidikan kita telah mencetak generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab?
Di titik ini, saya melihat ada dua tantangan besar yang terus menghantui pendidikan
Indonesia: tantangan struktural dan tantangan kultural.
Tantangan Struktural: Sistem yang Tidak Berjalan
Pertama, masalah pemerataan akses pendidikan. Realitas negeri kepulauan membuat kualitas sekolah di kota besar dan di pulau terpencil bagaikan bumi dan langit. Anak-anak di kota belajar dengan proyektor dan internet, sementara di daerah 3T masih ada murid yang belajar di bangunan rapuh dengan buku terbatas. Kesenjangan ini secara langsung melahirkan ketimpangan kualitas SDM antarwilayah.
Kedua, persoalan kualitas guru. Guru adalah ujung tombak pendidikan, tetapi distribusi guru tidak merata dan kompetensi penguasaan teknologi belum optimal. Banyak guru di daerah masih kesulitan mengadaptasi pembelajaran digital, padahal generasi muda hari ini adalah generasi digital.
Ketiga, tata kelola pendidikan yang rumit. Birokrasi panjang dan kebijakan yang terus berubah membuat pendidikan kehilangan arah jangka panjang. Kurikulum berganti-ganti, guru tergesa-gesa menyesuaikan, tetapi dampaknya bagi siswa sering tidak signifikan.
Dan keempat, standar mutu pendidikan yang timpang. Ada sekolah unggulan yang melahirkan juara-juara olimpiade, tetapi ada pula sekolah yang sekadar berusaha agar siswanya bisa membaca dengan lancar.
Tantangan Kultural: Adab yang Hilang, Identitas yang Pudar
Selain masalah struktural, tantangan yang lebih berbahaya adalah krisis kultural. Di sinilah pendidikan kita menghadapi persoalan paling mendalam.
Pertama, hilangnya adab. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut fenomena ini sebagai loss of adab. Kita menyaksikan generasi yang cerdas tetapi mudah marah, berpengetahuan namun tidak menghormati guru, mampu mengakses informasi tetapi tidak bijak dalam menggunakannya. Krisis moral ini menunjukkan pendidikan kita selama ini terlalu menekankan aspek kognitif, tetapi melupakan dimensi etik dan spiritual.
Kedua, melemahnya nilai kearifan lokal. Indonesia memiliki kekayaan budaya yang seharusnya menjadi modal sosial bagi pendidikan karakter.
Ketiga, rapuhnya budaya keilmuan. Literasi rendah, diskusi ilmiah minim, dan kecenderungan berpikir instan membuat bangsa ini sulit melompat maju. Tanpa tradisi membaca, menulis, dan berpikir kritis, bonus demografi hanya akan menjadi beban demografi.
Merumuskan Solusi: Struktural dan Kultural Harus Berjalan Bersama
Upaya memperbaiki kualitas pendidikan tidak cukup dilakukan secara terpisah antara pembenahan sistem dan penguatan nilai. Keduanya harus berlangsung secara simultan dan saling melengkapi. Dari sisi struktural, pemerataan fasilitas pendidikan menjadi langkah mendasar, terutama melalui penguatan sekolah digital dan kebijakan afirmatif bagi wilayah 3T agar kesenjangan akses dapat dipersempit. Kualitas guru perlu ditingkatkan melalui pelatihan teknologi, peningkatan insentif, serta program pertukaran guru antarwilayah agar kompetensi mereka tidak terpusat pada daerah tertentu. Kurikulum juga harus adaptif, dengan memadukan aspek akademik, vokasi, serta kebutuhan lokal, sehingga lebih relevan dengan dinamika masyarakat. Di samping itu, reformasi birokrasi pendidikan diperlukan untuk memastikan bahwa kebijakan berjalan konsisten dan efisien tanpa terhambat oleh prosedur yang berbelit-belit.
Dari sisi kultural, pendidikan perlu diperkuat dengan nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi pembentukan karakter, sehingga siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga terikat pada identitas budaya dan moral. Pendekatan ta’dibiyyah dapat menjadi model, karena memadukan penguasaan ilmu dengan pembentukan adab sebagai inti pendidikan yang utuh. Selain itu, budaya literasi harus dibangun secara lebih serius melalui kebijakan Gerakan Pelajar Membaca saya mendorong Pemerintah di bawa kepemimpinan Prabowwo Subianto untuk mengeluarkan Peraturan Menteri (PERMEN) atau sejenisnya oleh Menteri terkait untuk mewajibkan siswa menuntaskan sejumlah buku sebagai bagian dari proses pembelajaran dan syarat kelulusan.
Dengan sinergi antara perbaikan struktural dan penguatan kultural inilah pendidikan dapat berkembang secara komprehensif dan berkelanjutan.
Oleh: Muhammad Ilham, S.H. Ketua Umum PD KAMMI Makassar


hvjyhwxwdjgdjmfmjsrdkehxkhxpzf
**mitolyn official**
Mitolyn is a carefully developed, plant-based formula created to help support metabolic efficiency and encourage healthy, lasting weight management.