PP KAMMI Gelar Aksi Boikot Trans7: Desak Media Lebih Selektif dan Hormati Ulama

LENTERA.PRESS, Jakarta — Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menggelar aksi boikot terhadap Trans7 setelah stasiun televisi tersebut menayangkan konten yang dinilai kontroversial dan melecehkan ulama serta santri.

Dalam aksi tersebut, PP KAMMI menegaskan bahwa media massa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga nilai moral dan etika publik. Karena itu, setiap konten yang akan ditayangkan harus melalui proses penyaringan yang ketat agar tidak menyinggung nilai-nilai keagamaan dan budaya bangsa.

“Kami mendesak agar pihak Trans7 dan seluruh lembaga penyiaran di Indonesia lebih berhati-hati dalam memproduksi maupun menayangkan konten. Media harus menjadi sarana edukasi dan pencerahan, bukan justru sumber kontroversi dan pelecehan terhadap simbol-simbol keagamaan,” tegas perwakilan PP KAMMI dalam pernyataannya.

PP KAMMI juga berharap agar ke depan pihak Trans7 dapat lebih terbuka untuk berkolaborasi dengan pemuda dan organisasi masyarakat dalam pengembangan program-program positif. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat peran media sebagai mitra strategis dalam membangun generasi muda yang berkarakter dan beradab.

11 thoughts on “PP KAMMI Gelar Aksi Boikot Trans7: Desak Media Lebih Selektif dan Hormati Ulama

  1. Do you mind if I quote a couple of your articles as long as I provide credit and sources back to your webpage? My website is in the very same area of interest as yours and my users would certainly benefit from some of the information you provide here. Please let me know if this ok with you. Many thanks!

  2. Thank you for any other fantastic post. The place else could anyone get that kind of info in such an ideal approach of writing? I’ve a presentation subsequent week, and I’m on the look for such info.

  3. Its wonderful as your other posts : D, thankyou for putting up. “Reason is the substance of the universe. The design of the world is absolutely rational.” by Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *