LENTERA.PRESS, Gowa — Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin telah sukses melaksanakan Program Kerja Sapa Pelosok (SAPPO) di Dusun Matteko, Desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. 22–24 Agustus 2025.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Literasi Budaya”, yang menekankan pentingnya membaca, menulis, dan bercerita sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pemilihan tema tersebut didasarkan pada temuan bahwa seluruh siswa di MTSS Muhammadiyah Matteko mengalami ketertinggalan pendidikan dan masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melalui SAPPO, mahasiswa berupaya memberikan dorongan literasi dasar yang relevan dengan kebutuhan siswa di daerah tersebut.
Sebanyak 37 mahasiswa Universitas Hasanuddin berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan di dua sekolah, yaitu MIS Muhammadiyah Matteko dan MTSS Muhammadiyah Matteko—setara dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama. Edukasi diberikan melalui pembelajaran non-formal yang terbagi ke dalam tiga fokus utama:
- Pengajaran tanda baca dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD);
- Pelatihan membuat cerita berdasarkan bahan bacaan;
- Pembiasaan membaca nyaring, termasuk latihan intonasi suara, gerak tubuh, dan ekspresi wajah.
Dusun Matteko merupakan dusun terluas di Kabupaten Gowa, namun memiliki jumlah penduduk relatif sedikit. Hampir seluruh anak usia sekolah di dusun ini telah mengenyam pendidikan. Keberadaan sekolah di Matteko merupakan hasil gotong royong masyarakat sejak tahun 1980-an, ketika warga secara mandiri mengumpulkan batu bata untuk mendirikan bangunan sekolah. Kepala sekolah dan guru, seperti Pak Gani dan Pak Nasir, telah menjalankan peran penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan meski menghadapi keterbatasan dana operasional. Kehadiran mahasiswa pengajar pun turut membantu guru untuk tetap menjalankan aktivitas ekonomi di luar sekolah.
Program SAPPO bukan hanya meningkatkan literasi siswa, tetapi juga memberikan dukungan moral bagi guru dan masyarakat setempat. Melalui metode pengajaran kreatif, siswa dilatih untuk lebih percaya diri, memahami dasar-dasar literasi, serta mampu menyusun cerita sederhana. Kegiatan ini juga memperkuat nilai gotong royong dan kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan di wilayah terpencil.
Tokoh masyarakat, termasuk Pak Jabar yang sejak awal merintis keberadaan sekolah di dusun tersebut, menyambut baik kehadiran mahasiswa. Ia menegaskan bahwa semangat pendidikan tidak boleh padam meski akses ke sekolah terdekat berjarak 4 km dan kondisi jalan sulit dilalui.
Melalui SAPPO bertema “Literasi Budaya”, HUMAN FISIP Unhas berharap dapat menumbuhkan generasi Dusun Matteko yang melek aksara, percaya diri, dan mencintai ilmu pengetahuan. Program ini menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam memperkuat budaya literasi serta membangkitkan kembali harapan pendidikan di pelosok negeri.

