LENTERA PRESS, Maluku – Potret semangat gotong royong kembali ditunjukkan oleh masyarakat yang memilih bertindak daripada menunggu.
Setelah puluhan tahun jalan penghubung di wilayah mereka tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, warga akhirnya berinisiatif membangun jalan secara mandiri tanpa bantuan sedikit pun dari pemerintah. Kabupaten Maluku Tengah, Senin, 13/07/2026.
“Bertahun-tahun dan berkali-kali masyarakat sudah mencoba mengusulkan jalan mereka lewat proposal. Tapi tak ada tanggapan sampai saat ini. Berkaki-kali di masuki dan di usulkan persoalan ke Kepala Daerah dan DPRD Kabupaten, Provinsi dan Pusat namun nihil,” Ucap Israma Tokoh Masyarakat
Dengan mengumpulkan dana secara swadaya melalui patungan masyarakat, warga bergotong royong membeli material berupa semen, pasir, dan batu, kemudian mengerjakan sendiri proses pengecoran jalan. Jalan yang dibangun memiliki panjang kurang lebih 500 meter dengan lebar sekitar 3 meter.
Pembangunan ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masyarakat masih sangat kuat. Di tengah keterbatasan, mereka rela menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya demi menghadirkan akses jalan yang layak untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Ironisnya, hingga proses pembangunan berlangsung, masyarakat mengaku tidak menerima bantuan, baik berupa anggaran maupun material, dari pemerintah. Seluruh pekerjaan dilakukan murni atas kesadaran dan kepedulian warga terhadap kebutuhan bersama.
Warga berharap aksi swadaya ini menjadi perhatian pemerintah agar pembangunan infrastruktur di daerah tidak lagi bergantung pada kemampuan masyarakat semata.
Jalan merupakan kebutuhan dasar yang menjadi tanggung jawab negara untuk menjamin akses transportasi, perekonomian, pendidikan, dan pelayanan kesehatan bagi seluruh warga.
Semangat gotong royong ini patut diapresiasi. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut menjadi cerminan bahwa masih terdapat wilayah yang belum memperoleh pemerataan pembangunan.
Masyarakat berharap pemerintah segera hadir dengan kebijakan dan program yang berpihak pada kebutuhan dasar rakyat, sehingga pembangunan tidak hanya bergantung pada pengorbanan masyarakat.
“Kami tidak ingin hanya mengeluh. Karena jalan ini adalah kebutuhan bersama, kami memilih bergotong royong. Namun kami berharap pemerintah melihat kondisi ini dan hadir memberikan perhatian yang nyata,” ungkap salah seorang warga yang terlibat dalam pembangunan.
Pembangunan jalan secara swadaya ini menjadi pengingat bahwa kekuatan masyarakat mampu menghadirkan perubahan. Namun, semangat gotong royong warga tidak seharusnya menggantikan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang layak bagi seluruh rakyat.

