LENTERA.PRESS, Jakarta – Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) mengapresiasi langkah PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) dalam memberikan solusi transportasi alternatif bagi penumpang yang terdampak gangguan dan keterlambatan penerbangan.
Langkah penyediaan armada bus gratis menuju sejumlah kota menjadi bentuk respons konkret untuk membantu mobilitas masyarakat ketika penerbangan mengalami keterlambatan atau kendala operasional. InJourney Airports sendiri saat ini merupakan pengelola 37 bandara di Indonesia setelah integrasi Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II.
Ketua Bidang Investasi dan Pariwisata PP KAMMI, Ogy Sugianto, menilai penyediaan transportasi alternatif tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kebandarudaraan tidak hanya berhenti pada operasional penerbangan, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dan kenyamanan penumpang.
“Kami mengapresiasi langkah InJourney Airports yang tidak membiarkan penumpang menghadapi dampak keterlambatan penerbangan sendirian. Penyediaan shuttle bus gratis merupakan bentuk kehadiran pelayanan yang konkret dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar Ogy Sugianto.
Berdasarkan informasi layanan yang disampaikan, armada bus gratis disediakan untuk mendukung perjalanan penumpang menuju Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya. Penumpang dapat memperoleh informasi dan layanan tersebut melalui petugas Customer Service InJourney Airports di posko terpadu masing-masing terminal.
Menurut Ogy, kebijakan tersebut patut menjadi contoh dalam membangun standar pelayanan publik di sektor transportasi, khususnya ketika terjadi kondisi yang berada di luar kendali penumpang.
“Ketika terjadi keterlambatan, yang paling dibutuhkan penumpang adalah kepastian informasi dan solusi. Karena itu, kami berharap pola pelayanan seperti ini terus diperkuat, baik melalui transportasi alternatif, informasi yang transparan, maupun koordinasi yang cepat dengan maskapai,” katanya.
Ogy juga menekankan bahwa cara pengelola bandara menangani gangguan operasional berkorelasi langsung dengan citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
“Bandara adalah gerbang utama sekaligus kesan pertama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Ketika terjadi kendala, respons krisis yang cepat, humanis, dan berorientasi pada solusi seperti penyediaan armada transportasi alternatif ini sangat menentukan reputasi Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa industri aviasi kita tidak hanya siap secara infrastruktur, tetapi juga memiliki kesiapan manajemen pelayanan publik berskala internasional dalam menjamin kenyamanan wisatawan,” tegas Ogy.
Lebih lanjut, PP KAMMI mendorong InJourney Airports untuk terus meningkatkan mitigasi terhadap potensi gangguan penerbangan, termasuk memastikan informasi mengenai keterlambatan, perubahan jadwal, kompensasi, serta alternatif transportasi dapat diterima penumpang secara cepat dan mudah melalui integrasi sistem digital.
Hal tersebut penting karena kualitas pelayanan bandara tidak hanya diukur dari kelancaran pesawat saat berangkat dan tiba, tetapi juga dari bagaimana pengelola memberikan solusi ketika terjadi krisis perjalanan.
“Kami berharap langkah positif ini bukan sekadar respons situasional, tetapi menjadi bagian dari standar pelayanan yang berkelanjutan. Penumpang harus mendapatkan rasa aman, kepastian, dan kemudahan selama berada di bandara,” tutup Ogy.
PP KAMMI menilai peningkatan kualitas pelayanan bandara merupakan bagian penting dalam memperkuat konektivitas nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata Indonesia secara menyeluruh.

