Aku tak pernah menyangka, sepasang sepatu tua bisa mengubah cara pandangku terhadap hidup. Namaku Bagas, 28 tahun, lulusan kampus ternama, bekerja di sebuah perusahaan besar di Makassar. Dulu aku hidup seperti kebanyakan orang di kota: bangun pagi, macet-macetan, kerja, lalu pulang ke kosan dengan kepala penuh target dan laporan bulanan. Hidupku lurus, teratur, dan… hampa.
Semuanya berubah (setelah) pada suatu sore di bulan Ramadhan. Aku pulang lebih awal dari kantor. Bukan karena sudah selesai bekerja, tapi karena aku muak. Deadline, atasan yang suka menyalahkan, rekan kerja yang toxic, dan gaji yang tak kunjung naik membuatku ingin kabur sebentar dari rutinitas. Aku kebut kendaraanku tanpa tujuan jelas, membiarkan jalan menentukan arah.
Sampai aku berhenti di sebuah lokasi di pinggiran Makassar, entah kenapa, aku hanya merasa harus berhenti di situ. Jalanan becek, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, dan rumah-rumah reyot menyambutku.
Aku berjalan menyusuri gang sempit, sampai mataku tertumbuk pada seorang pria tua duduk di emperan, menjahit sepatu yang sudah bolong di bagian sol. Di sebelahnya, ada tumpukan sepatu lain, semuanya rusak parah.
“Sepatunya rusak, pak? Bisa saya betulkan,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh.
Aku refleks melihat ke bawah. Sepatuku memang sudah mulai usang. “Nggak, Pak. Cuma lewat saja.”
“Semua orang juga cuma lewat,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi kadang, yang lewat itu yang paling lama tinggal.”
Aku terdiam. Kata-katanya entah kenapa menamparku.
“Duduk, Pak. Tidak semua jalan harus dilalui dengan terburu-buru.”
Aku menurut. Duduk di sampingnya. Kami diam cukup lama, hanya mendengar suara anak-anak bermain dan gesekan benang dengan kulit sepatu.
“Bapak tiap hari di sini?” tanyaku akhirnya.
“Iya. Ini tempat saya bekerja sekaligus belajar.”
“Belajar apa, Pak?”
“Belajar memahami kaki orang lain.”
Aku nyaris tertawa, tapi kutahan.
“Maksudnya?”
Ia menatapku dan berkata pelan, “Setiap orang punya sepatu. Tapi tidak semua sepatu diciptakan sama. Ada yang licin, ada yang berlubang. Ada yang sempit, ada yang terlalu besar. Tapi semua orang tetap berjalan dengan sepatu masing-masing. Kadang mereka jatuh, kadang lecet, kadang luka. Tugas saya bukan hanya menjahit, tapi memahami: apa yang telah dilalui sepatu itu. Lalu memperbaikinya agar pemiliknya bisa berjalan lagi.”
Aku diam, menelaah kalimatnya. Mungkin terdengar seperti filsafat pinggir jalan, tapi saat itu, di tempat sempit dan bau got, aku merasa kalimatnya punya ruh.
“Kalau saya boleh tahu, Bapak tinggal di mana?”
Ia menunjuk rumah kecil berdinding triplek di seberang gang. “Di situ. Bersama cucu saya. Orang tuanya sudah tiada.”
Aku menunduk. “Maaf…”
“Tidak perlu minta maaf untuk hal yang tidak kamu lakukan,” balasnya cepat, seperti sudah terbiasa dengan ekspresi belas kasihan.
Namanya Pak Harun. Usianya 62 tahun, tapi tampaknya tubuhnya masih kuat. Setiap hari ia duduk di sana, menjahit sepatu siapa pun yang datang. Tak pernah mematok harga. “Bayar seikhlasnya saja,” katanya.
Aku tergerak untuk datang lagi keesokan harinya. Kali ini aku membawa sepatu lamaku yang sudah disimpan di lemari. Pak Harun menerimanya dengan senyum. Saat ia mulai menjahit, aku perhatikan tangannya cekatan, meski keriput.
“Bapak belajar menjahit dari mana?”
“Dari bapak saya. Dulu saya sempat bekerja di pabrik sepatu. Tapi pabrik tutup. Saya tidak tamat SD, jadi tidak mudah cari kerja.”
Hari demi hari, aku jadi rutin datang ke sana sepulang kerja. Kadang membawa makanan, kadang hanya ngobrol. Tanpa sadar, aku mulai merasa hidup. Merasa punya arah.
Lalu, pada suatu sore, aku melihat seorang anak kecil (perempuan), sekitar 7 tahun, duduk di samping Pak Harun, menatapku sambil tersenyum. “Om Bagas ya?” sapanya ceria. “Kakek cerita tentang Om.”
Aku tersenyum, menunduk. “Iya. Nama kamu siapa?”
“Ayahna, Om. Tapi kakek suka panggil aku Bintang.”
Bintang sangat ramah dan cerdas. Ia suka membaca buku cerita bergambar yang kubawakan. Suaranya ceria, matanya berbinar. Tapi di balik semua itu, ada sorot kesepian yang tidak bisa ia sembunyikan. Kadang, saat Pak Harun sedang menjahit dan aku duduk di sana, Bintang bersandar di pangkuanku, tertidur. Saat itulah aku merasa: aku ingin menjadi sesuatu dalam hidup mereka. Bukan hanya sebagai pengunjung singgah.
Suatu malam, aku pulang dan duduk lama di kamar kos. Kupandangi foto keluarga di meja. Hidupku di sini penuh kemewahan, tapi tak pernah terasa utuh. Sementara di gang sempit itu, aku merasa seperti… manusia.
Aku putuskan: aku ingin melakukan sesuatu. Esoknya, aku datangi Pak Harun.
“Pak, saya mau bantu bikin tempat jahit yang lebih layak. Yang ada atap, meja kerja, dan rak sepatu. Saya yang danai.”
Pak Harun tersentak. “Untuk apa, Pak?”
“Karena Bapak mengajarkan saya sesuatu yang bahkan tidak saya dapat dari kuliah atau kantor. Dan karena saya ingin lebih banyak orang belajar dari Bapak.”
Ia menatapku lama. “Bapak yakin?”
Aku mengangguk.
Dalam dua bulan, berdirilah sebuah kios kecil sederhana, hasil kerja gotong royong warga kampung, aku, dan Pak Harun sendiri. Di depannya tertulis: “Bengkel Sepatu Harun Tempat Sepatu dan Hati Diperbaiki.”
Orang-orang mulai berdatangan. Tak hanya untuk memperbaiki sepatu, tapi juga untuk sekadar duduk, ngobrol, dan minta nasihat. Bahkan anak-anak muda sekitar mulai belajar menjahit dari Pak Harun. Ia tersenyum setiap kali melihat mereka belajar.
“Ilmu itu tidak mati kalau diturunkan, bahkan bertambah,” tuturnya padaku.
Dari situ, aku mulai punya ide lebih besar. Aku ajukan proposal ke kantorku: program CSR perusahaan berupa pelatihan keterampilan dasar untuk warga kampung. Mengejutkannya, proposal itu disetujui. Aku ditugaskan menjadi penanggung jawabnya.
Beberapa bulan kemudian, berdirilah “Rumah Kaki Kita”, tempat pelatihan menjahit sepatu, servis sandal, hingga daur ulang bahan bekas. Pak Harun jadi trainer utama. Aku melihat matanya berkaca-kaca saat peresmian. Bintang berdiri di sampingnya, memeluk erat tangan kakeknya.
“Mimpi itu seperti sepatu, Pak Bagas. Bisa bolong, bisa usang. Tapi kalau diperbaiki dengan cinta, bisa berjalan jauh sekali,” ujarnya malam itu, sambil menepuk pundakku.
Tiga tahun berlalu.
Aku sekarang tinggal di kampung itu. Pindah dari kosan, menetap di rumah kecil tak jauh dari bengkel. Program “Rumah Kaki Kita” sudah berkembang ke lima tempat lain. Banyak yang belajar menjahit, berdagang kecil-kecilan, dan hidup lebih mandiri.
Pak Harun kini tidak sekuat dulu. Tangannya mulai gemetar, matanya sering kabur. Tapi ia tetap datang setiap pagi ke bengkel, duduk di kursi yang sama, menyapa siapa pun yang lewat.
Kadang, saat orang-orang bertanya apa yang membuatku meninggalkan pekerjaan mapan dan hidup di tempat sempit ini, aku hanya tersenyum dan berkata:
“Karena di sini, aku belajar bahwa hidup bukan soal seberapa jauh kita berlari, tapi seberapa banyak sepatu yang kita bantu agar bisa berjalan lagi.”
Dan di ujung jalan itu, masih ada sepatu tua yang terus dijahit. Bukan hanya untuk menambal sol, tapi untuk merajut kembali harapan orang-orang yang hampir kehilangan arah.
Agung Wahyudi, Penyusun Novel Jejak Sunyi (sebuah novel perjalanan aktivis dakwah).