Namaku Ammar, mahasiswa semester tujuh di jurusan Teknik Elektro. Kalau kamu lihat task planner-ku, kamu mungkin akan mengira aku seorang manajer muda yang sibuk. Tapi kenyataannya, aku hanya mahasiswa biasa yang memutuskan untuk menjalani jalan luar biasa: menjadi murabbi, pembina halaqah di lembaga dakwah kampus.
Setiap pekan, aku mengisi tiga kelompok mentoring. Selasa pagi untuk adik-adik Teknik angkatan 2023. Jumat sore mentoring lintas fakultas. Dan Minggu pagi untuk kelompok binaan dari luar kampus. Kadang aku sendiri heran, kenapa aku masih bertahan dengan jadwal sepadat ini.
Sejujurnya, ada masa-masa aku ingin menyerah. Ingin jadi mahasiswa biasa. Yang selesai kuliah bisa rebahan. Yang akhir pekannya diisi healing, bukan halaqah. Tapi setiap kali rasa lelah itu datang, aku teringat malam pertamaku jadi murabbi. Bang Faiz, murabbiku dulu, menepuk pundakku dan berkata pelan, “Kamu akan merasa terbebani. Tapi di situlah cinta diuji, bukan di kata-kata, tapi di kesediaan menjemput, menunggu, dan membersamai.”
Menjadi murabbi tak berarti aku adalah orang yang paling saleh. Aku masih sering ketiduran subuh. Kadang kesal saat pesan-pesanku di grup mentoring tak direspon. Aku masih manusia, dengan semua luka dan kekurangan. Tapi menjadi murabbi membuatku terus belajar untuk tak berhenti memperbaiki diri.
Ada kalanya aku duduk di depan lima orang binaan, tapi pikiranku melayang ke skripsi yang belum selesai, tugas yang menumpuk, atau keluarga di rumah yang sedang dilanda masalah. Yang menyakitkan adalah ketika aku merasa tak punya tempat mengadu. Seolah semua orang punya bahu untuk bersandar… kecuali murabbi.
Hingga suatu kali, selesai mentoring, Azka, salah satu binaanku, berbisik pelan, “Bang Ammar, makasih ya. Abang tuh kayak rumah buat kami.” Ucapan itu sederhana, tapi cukup untuk membuatku bertahan satu pekan ke depan.
Tak semua orang yang datang akan tinggal. Aku pernah membina Rafi, anak yang luar biasa. Tilawahnya rajin, aktif di kegiatan dakwah, dan bahkan pernah juara MTQ tingkat kampus. Tapi semester ini, dia memutuskan berhenti. “Aku ingin jalan sendiri, Bang. Aku ingin spiritualitasku lebih bebas.”
Aku tidak marah. Tidak juga membujuk berlebihan. Aku hanya mengirim pesan:
“Jalan yang bebas bukan berarti tanpa arah. Kalau nanti kamu merasa kehilangan arah, pintu halaqah ini akan selalu terbuka.”
Menjadi murabbi mengajarkanku bahwa kita tak bisa menahan semua orang untuk tetap tinggal. Tapi kita bisa menjadi seseorang yang mereka tahu ke mana harus pulang.
Pernah, saat mentoring, aku minta mereka semua berbagi tentang dosa masa lalu yang paling mereka sesali. Awalnya hening. Lalu satu per satu mulai bicara. Ada yang pernah mabuk. Ada yang pernah zina. Ada yang hampir bunuh diri. Aku hanya bisa terdiam, menahan air mata. Mereka bukan orang-orang yang sempurna. Tapi mereka sedang berjuang menjadi lebih baik.
Saat itu aku sadar, tugas murabbi bukan mengajarkan orang menjadi baik. Tapi mencintai mereka di tengah upaya mereka untuk berubah.
Pernah juga, Damar, binaanku, datang malam-malam ke kosanku. Wajahnya kusut, mata sembab.
“Bang… aku pacaran lagi. Maaf.”
Aku biarkan dia bercerita. Tentang kesepiannya. Tentang jatuhnya kembali ke lubang yang sama. Tentang rasa bersalah karena merasa mengecewakanku.
Aku hanya bilang, “Murabbi bukan hakim. Aku nggak akan menghukummu. Tapi aku teman seperjalanan. Yuk, kita evaluasi bareng-bareng.” Dia menangis. Lama. Tapi di sanalah aku melihat fitrah manusia: selalu ingin pulang, meski pernah jauh.
Pernah juga dalam satu hari, aku mentoring jam 6 pagi, lanjut kuliah, lalu rapat dakwah kampus, sorenya jadi MC di kajian akbar. Pulang jam 10 malam. Tubuhku lelah, tapi hatiku terasa hangat. Karena mungkin, cahaya Allah datang ke hati-hati mereka hari ini lewat sedikit kata-kata dan ketulusan yang kami bagi.
Sekarang aku sudah semester akhir. Satu per satu binaanku mulai jadi murabbi. Ada yang grogi pertama kali mengisi. Ada yang bertanya, “Bang, aku takut salah. Harus ngomong apa?”
Aku senyum dan jawab, “Ngomonglah pakai hati. Bukan untuk mengubah mereka. Tapi untuk menemani mereka berubah.”
Sore ini aku duduk di mushala kampus. Di atas sajadah, aku buka catatan mentoring. Nama-nama yang pernah dan sedang kubina. Evaluasi mereka. Target mereka. Dan aku sadar, tak selamanya aku akan berada di sini. Tapi aku ingin, ketika aku tak lagi ada, halaqah ini tetap hidup.
Karena murabbi boleh pergi, tapi cinta dan semangatnya harus menetas jadi murabbi-murabbi baru.
Menjadi murabbi bukan tentang siapa yang paling tahu, tapi siapa yang paling mau berjalan lebih dulu. Bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling sabar menuntun tangan-tangan yang ingin kembali… perlahan, tapi pasti.
Agung Wahyudi, Penyusun Novel Jejak Sunyi (sebuah novel perjalanan aktivis dakwah).
Whoa! This blog looks just like my old one! It’s on a entirely different
subject butt it has pretty much the same layout and design. Excellent choice of colors! https://Glassiuk.Wordpress.com/