LENTERA.PRESS, MAKASSAR — Dosen Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Muhammad Yasin, meraih gelar doktor setelah menjalani ujian promosi di Aula Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Selasa, 11 Agustus 2026.
Yasin menyelesaikan studi doktor pada Program Studi Dirasah Islamiyah, Konsentrasi Pendidikan Bahasa Arab, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Ia mempertahankan disertasi berjudul “Evaluasi Program I’dad Lughawi di Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar dengan Menggunakan Model Kirkpatrick Tahun Akademik 2025/2026”.
Disertasi tersebut mengevaluasi efektivitas Program I’dad Lughawi, program persiapan bahasa Arab di Ma’had Al-Birr Unismuh, dengan menggunakan empat tingkat Model Kirkpatrick, yakni reaction, learning, behavior, dan results.
Pada tingkat reaction, penelitian mengukur tanggapan mahasiswa terhadap program. Tingkat learning menilai perkembangan empat keterampilan bahasa Arab, yakni menyimak (al-istimā‘), berbicara (al-kalām), membaca (al-qirā’ah), dan menulis (al-kitābah).
Sementara itu, tingkat behavior digunakan untuk melihat perubahan kebiasaan berbahasa mahasiswa. Adapun results menelusuri manfaat program setelah mahasiswa menjadi alumni.
Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain convergent parallel. Dari populasi 722 mahasiswa, sebanyak 88 mahasiswa menjadi sampel kuantitatif. Penelitian juga menelusuri 125 alumni serta melibatkan data dari dosen, pimpinan, dan pengelola program melalui angket, tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Keterampilan Lisan Lebih Menonjol
Hasil penelitian menunjukkan Program I’dad Lughawi secara umum efektif. Namun, tingkat keberhasilannya belum merata pada empat keterampilan bahasa Arab.
“Secara umum Program I’dad Lughawi efektif, tetapi capaian antarketerampilan belum seimbang. Kekuatan paling menonjol terdapat pada kemampuan lisan, terutama berbicara, sedangkan kemampuan membaca dan menulis masih perlu mendapat penguatan lebih serius,” kata Yasin.
Pada tingkat reaction, tanggapan mahasiswa terhadap program mencapai 89,35 persen atau masuk kategori sangat tinggi. Skor tertinggi terdapat pada profesionalisme dan kompetensi pengajar sebesar 92,49 persen, disusul metode pembelajaran 92,38 persen.
Media pembelajaran memperoleh skor 85,94 persen. Meski menjadi capaian terendah dibandingkan aspek lain yang diukur, nilainya tetap berada dalam kategori sangat tinggi.
Perbedaan lebih jelas terlihat pada tingkat learning. Seluruh keterampilan bahasa Arab mengalami peningkatan signifikan, tetapi kemampuan berbicara mencatat peningkatan paling tinggi.
N-Gain al-kalām mencapai 86,74 persen atau kategori tinggi. Kemampuan menyimak mencapai 65,34 persen, membaca 37,60 persen, sedangkan menulis 29,96 persen.
Rata-rata nilai kemampuan berbicara juga meningkat dari 60,36 pada tes awal menjadi 94,56 pada tes akhir.
Temuan tersebut menunjukkan kompetensi dosen, metode komunikatif, intensitas praktik, dan bī’ah lughawiyyah atau lingkungan bahasa lebih kuat menopang perkembangan keterampilan lisan dibandingkan kemampuan membaca dan menulis.
Lingkungan Bahasa Jadi Jembatan
Pada tingkat behavior, penelitian menemukan bahwa hasil pembelajaran mulai beralih menjadi kebiasaan menggunakan bahasa Arab.
Penggunaan bahasa Arab sehari-hari mencapai 88 persen. Keberanian dan kepercayaan diri mahasiswa dalam berbicara mencapai 85 persen, sedangkan partisipasi dalam kegiatan formal sebesar 80 persen. Partisipasi mandiri tercatat 60 persen dan penerapan empat keterampilan bahasa sebesar 80 persen.
Menurut Yasin, lingkungan bahasa memiliki peran penting agar kemampuan yang diperoleh mahasiswa tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas.
“Bī’ah lughawiyyah menjadi jembatan antara apa yang dipelajari mahasiswa dan kebiasaan menggunakan bahasa Arab. Kemampuan bahasa tidak cukup hanya dipahami di kelas, tetapi harus mendapat ruang untuk dipraktikkan secara terus-menerus,” ujarnya.
Meski demikian, perubahan perilaku berbahasa belum berlangsung merata. Keterbatasan kosakata, perbedaan kemampuan awal, dukungan teman sebaya, intensitas lingkungan bahasa, dan kesempatan praktik turut memengaruhi konsistensi mahasiswa.
Mahasiswa yang tidak tinggal di asrama juga menghadapi tantangan tersendiri karena akses mereka terhadap lingkungan dan kegiatan berbahasa di Ma’had tidak seintensif mahasiswa yang tinggal di asrama.
Menjadi Modal bagi Alumni
Pada tingkat results, Yasin menelusuri 125 alumni untuk melihat keberlanjutan manfaat Program I’dad Lughawi.
Kontribusi terbesar ditemukan pada aspek akademik, yakni 64,80 persen. Selanjutnya, manfaat sosial-keagamaan mencapai 56 persen, dakwah 45,60 persen, pengajaran 40,80 persen, karier 32,80 persen, dan studi lanjut 16,80 persen.
Program tersebut terutama berfungsi sebagai fondasi kebahasaan, akademik, dan keagamaan. Bekal bahasa Arab digunakan alumni untuk memahami literatur dan sumber keislaman, mengikuti pendidikan lanjutan, mengajar, berdakwah, bekerja, serta terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan.
“Temuan kami menunjukkan I’dad Lughawi terutama menjadi fondasi kebahasaan, akademik, dan keagamaan bagi alumni. Bekal itu kemudian digunakan secara berbeda-beda, bergantung pada lingkungan, profesi, kesempatan, dan pengalaman masing-masing setelah meninggalkan Ma’had,” kata Yasin.
Penelitian tersebut tidak menempatkan Program I’dad Lughawi sebagai satu-satunya penyebab perkembangan alumni. Pendidikan lanjutan, lingkungan kerja, motivasi pribadi, jejaring, kesempatan berlatih, dan pengalaman setelah menyelesaikan program juga turut berpengaruh.
Adaptasi Model Kirkpatrick
Kebaruan penelitian Yasin terletak pada adaptasi Model Kirkpatrick dalam evaluasi pendidikan bahasa Arab intensif berbasis Ma’had.
Empat keterampilan bahasa ditempatkan sebagai indikator utama pada tingkat learning. Sementara bī’ah lughawiyyah diposisikan sebagai penghubung antara kemampuan yang diperoleh dalam proses belajar dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tingkat results, evaluasi tidak hanya melihat capaian akademik, tetapi juga kontribusi program terhadap pengajaran, dakwah, karier, studi lanjut, serta aktivitas sosial-keagamaan alumni.
Penelitian menemukan sejumlah faktor yang menopang keberhasilan program, antara lain kompetensi dosen, kurikulum yang bertahap, metode berbasis praktik, materi yang sistematis, lingkungan bahasa, pembinaan asrama, serta integrasi kegiatan formal dan nonformal.
Di sisi lain, kemampuan membaca dan menulis, penguasaan kosakata, pemanfaatan media digital, konsistensi penggunaan bahasa Arab, akses mahasiswa nonasrama, serta pembinaan alumni masih perlu diperkuat.
“Perbaikan program tidak cukup hanya mempertahankan kekuatan pada keterampilan berbicara. Penguatan qirā’ah dan kitābah, pembelajaran sesuai kemampuan awal mahasiswa, penggunaan media digital, serta pembinaan alumni perlu menjadi agenda pengembangan berikutnya,” ujar Yasin.
Atas temuan tersebut, ia merekomendasikan tes diagnostik kemampuan awal dan pembelajaran berdiferensiasi, Klinik Qirā’ah, Program Portofolio Kitābah, serta penguatan lingkungan berbahasa bagi mahasiswa asrama maupun nonasrama.
Rekomendasi lain mencakup pengembangan laboratorium dan media digital bahasa Arab, program belajar mandiri terarah, pembentukan forum alumni, penelusuran alumni secara berkala, serta evaluasi tahunan Program I’dad Lughawi berbasis Model Kirkpatrick.
Promotor dan Penguji
Dalam menyelesaikan disertasinya, Yasin dibimbing Prof Dr Hj Amrah Kasim sebagai promotor, Prof Dr Hj Misykat Malik Ibrahim sebagai kopromotor I, dan Dr Hj Haniah sebagai kopromotor II.
Dewan penguji terdiri atas Prof Dr Sitti Mania, Dr H Andi Abdul Hamzah, dan Dr Anwar Abdul Rahman. Promotor dan kopromotor juga menjadi bagian dari tim penguji disertasi.
Yasin lahir di Tile-Tile, Selayar, 30 Juni 1985. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di International University of Africa pada 2008-2012 dan pendidikan magister di Khartoum International Institute for Arabic Language pada 2012-2014. Studi doktor ditempuh di UIN Alauddin Makassar pada 2023-2026.
Di luar aktivitas akademik, Yasin pernah menjadi anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Selayar dan anggota Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Selayar pada 2015-2018.
Ia juga menjabat Ketua Bidang Mualaf Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan periode 2022-2027.

