LENTERA.PRESS – Gerakan Kita adalah Bagian dari Doa untuk Indonesia. Reformasi 1998 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Reformasi telah membuka ruang demokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan berserikat, serta mendorong perubahan besar dalam kehidupan politik dan ketatanegaraan.
Namun, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa perjalanan Reformasi 1998 pernah diwarnai oleh kerusuhan, konflik, kerusakan fasilitas publik, dan berbagai persoalan yang meninggalkan luka bagi bangsa. Pada saat yang sama, terdapat kelompok-kelompok elite yang kemudian menikmati sebagian hasil perubahan tersebut, sementara kepentingan dan masa depan rakyat belum sepenuhnya menjadi pemenang dari proses reformasi.
Karena itu, hari ini kita tidak seharusnya hanya terjebak pada pertanyaan tentang Reformasi Jilid II. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi ruang demokrasi dan kebebasan yang telah lahir dari Reformasi 1998?
Menurut saya, Reformasi tidak perlu diulang. Reformasi yang pertama saja belum sepenuhnya kita isi dengan baik. Yang harus dilakukan saat ini adalah memperbaiki kualitas kehidupan berbangsa melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu turun ke jalan menyampaikan kritik, tetapi juga mampu menciptakan solusi. Generasi yang berpendidikan, berintegritas, kritis, produktif, menguasai teknologi, memiliki keterampilan, serta mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Berbagai persoalan pembangunan masih menjadi pekerjaan besar bangsa. Kemiskinan, ketimpangan, kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, pemerataan pembangunan, penguasaan teknologi, hingga kualitas SDM harus menjadi perhatian serius.
Karena itu, energi perubahan harus diarahkan dari sekadar demonstrasi menuju gerakan peningkatan kapasitas manusia.
Saatnya Gerakan Demonstrasi Diperkuat dengan Gerakan Pembangunan SDM
Bukan berarti kritik dan demonstrasi harus dihilangkan dari demokrasi. Kritik tetap penting sebagai mekanisme kontrol terhadap kekuasaan. Demonstrasi juga merupakan bagian dari kebebasan menyampaikan pendapat yang dijamin dalam negara demokrasi.
Namun, gerakan perubahan tidak boleh berhenti pada demonstrasi.
Saatnya memperbanyak gerakan pelatihan, kursus keterampilan, pendidikan dan pelatihan akademik, gerakan entrepreneurship, program magang, peningkatan kompetensi, serta sertifikasi K3 dan sertifikasi profesi lainnya sebagai bekal untuk mengisi ruang-ruang Reformasi yang telah tersedia.
Kita membutuhkan lebih banyak anak muda yang mampu menjadi tenaga profesional, pengusaha, akademisi, peneliti, teknokrat, aktivis, birokrat, pemimpin politik, dan pekerja yang kompeten.
Kita membutuhkan generasi yang mampu mengisi lembaga-lembaga negara, dunia usaha, ruang pendidikan, teknologi, media, dan berbagai sektor strategis dengan kapasitas dan integritas.
Jangan sampai energi generasi muda habis untuk terus memperdebatkan apakah Indonesia membutuhkan reformasi baru, sementara ruang yang sudah terbuka sejak Reformasi 1998 belum kita manfaatkan secara maksimal.
Kerusuhan dan kerusakan hanya meninggalkan pekerjaan rumah berupa pemulihan dan pembangunan kembali. Sementara pembangunan manusia membutuhkan investasi yang jauh lebih panjang: pendidikan, pelatihan, pengalaman, kompetensi, karakter, dan kesempatan.
Gerakan Kita adalah Bagian dari Doa untuk Indonesia
Kita harus mengubah cara pandang tentang gerakan.
Gerakan mahasiswa dan gerakan pemuda tidak boleh hanya hadir ketika ada persoalan. Gerakan harus hadir untuk membangun solusi.
Kita perlu membangun budaya membaca, memperkuat diskusi, mengembangkan riset, meningkatkan keterampilan digital, memperluas kesempatan magang, membangun kewirausahaan, memperkuat pendidikan politik, serta mendorong anak muda mengambil sertifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Inilah bentuk lain dari perjuangan.
Kita tidak sedang meninggalkan semangat Reformasi. Kita justru sedang menyempurnakan cita-citanya.
Demokrasi harus diisi dengan manusia-manusia berkualitas. Kebebasan harus diikuti tanggung jawab. Kekuasaan harus dikawal oleh masyarakat yang terdidik. Dan perubahan harus menghasilkan kehidupan rakyat yang lebih baik.
Karena itu, saya mengajak seluruh generasi muda Indonesia untuk tidak kehilangan energi dalam perdebatan yang tidak produktif.
Mari isi Reformasi dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, karya, kewirausahaan, keberanian, integritas, dan pengabdian.
Gerakan kita bukan sekadar gerakan untuk mengkritik keadaan. Gerakan kita adalah bagian dari ikhtiar dan doa untuk Indonesia.
Indonesia membutuhkan generasi yang mampu membawa bangsa ini menjadi lebih maju, berdaulat, adil, produktif, dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Tidak perlu Reformasi Jilid II. Mari sempurnakan cita-cita Reformasi 1998 dengan membangun manusia Indonesia.
#TolakAksi27Agustus #JagaIndonesia #RawatReformasi #ReformasiBukanKerusuhan #IndonesiaButuhSolusi #GerakanUntukIndonesia
Oleh: Mustakim Rumasukun, Ketua Umum PW KAMMI Maluku

