KPI Unggul, Alumni Unggul: Dari Dakwah Pelosok hingga Gerakan Kemanusiaan

LENTERA.PRESS – Ada satu hal yang selalu menarik untuk direnungkan dari perjalanan sebuah perguruan tinggi dan program studi: sejauh mana pendidikan yang diberikan mampu melahirkan manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Bagi saya, Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) bukan sekadar sebuah jurusan yang mengajarkan komunikasi, penyiaran, media, dakwah, dan berbagai keterampilan akademik lainnya. KPI adalah ruang pembentukan manusia yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, membangun peradaban, menyampaikan nilai-nilai kebaikan, sekaligus menghadirkan kebermanfaatan.

Karena itu, ketika Program Studi KPI Universitas Muhammadiyah Makassar memperoleh predikat Unggul, saya melihatnya bukan hanya sebagai pencapaian administratif atau akademik. Predikat tersebut seharusnya menjadi energi baru untuk membuktikan bahwa kualitas pendidikan benar-benar melahirkan alumni yang unggul dalam pemikiran, karya, pengabdian, dan kepedulian sosial.

Unggul Tidak Berhenti pada Predikat

Predikat unggul tentu patut disyukuri. Namun, sebuah program studi tidak boleh berhenti pada pencapaian di atas kertas.

Keunggulan sejati justru terlihat ketika para alumninya mampu membawa ilmu yang diperoleh di kampus ke tengah masyarakat.

Alumni KPI Universitas Muhammadiyah Makassar telah tersebar di berbagai ruang pengabdian. Ada yang bergerak dalam dunia dakwah, pendidikan, media, pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai aktivitas sosial.

Sebagian bahkan memilih jalan yang tidak selalu mudah: dakwah hingga ke pelosok, mendampingi masyarakat, membangun literasi, dan menghadirkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat yang membutuhkan.

Terutama di kawasan Sulawesi dan Indonesia Timur, jejak pengabdian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan alumni KPI.

Bagi saya, inilah salah satu ukuran penting dari sebuah pendidikan tinggi: ketika ilmu tidak hanya membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membuatnya memiliki kepedulian.

Dari Dakwah Menuju Kemanusiaan

Belakangan ini, semangat tersebut kembali terlihat ketika keluarga besar alumni dan mahasiswa KPI bergerak dalam aksi kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.

IKA KPI bersama HIMAPRODI KPI menggalang dan menyalurkan bantuan ke sejumlah titik di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, khususnya Ronting, Reo, dan Pota.

Gerakan ini mungkin terlihat sederhana.

Namun, di balik bantuan yang terkumpul, ada pesan yang jauh lebih besar: bahwa pendidikan melahirkan kepedulian dan bahwa alumni tidak boleh kehilangan hubungan dengan masyarakat.

Ketika bencana terjadi, tidak ada lagi sekat antara almamater, profesi, organisasi, maupun latar belakang. Yang ada adalah rasa kemanusiaan.

Para alumni, mahasiswa, dosen, dan para donatur memilih untuk bergandengan tangan. Mereka menyisihkan sebagian harta dan tenaga untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Di sinilah saya melihat makna lain dari predikat Unggul.

Unggul bukan hanya tentang nilai, akreditasi, fasilitas, publikasi atau prestasi akademik. Unggul juga berarti memiliki keberanian untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Alumni Harus Menjadi Bagian dari Solusi

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi yang mampu menjawab persoalan zaman.

Kita tidak membutuhkan alumni yang hanya sibuk dengan pencapaian pribadi. Kita membutuhkan alumni yang mampu menjadikan kompetensi dan ilmunya sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

KPI memiliki posisi strategis dalam hal ini.

Ilmu komunikasi memberikan kemampuan untuk menyampaikan pesan. Ilmu dakwah memberikan orientasi nilai. Organisasi memberikan pengalaman kepemimpinan. Dan kehidupan kampus memberikan ruang untuk belajar tentang masyarakat.

Jika semuanya dipadukan, alumni KPI seharusnya mampu menjadi komunikator perubahan sekaligus pelaku perubahan.

Karena dakwah tidak selalu harus berada di atas mimbar.

Dakwah juga dapat hadir melalui pendidikan, media, literasi, pendampingan masyarakat, kerja sosial, penggalangan bantuan, bahkan melalui keberanian untuk hadir di tengah masyarakat yang sedang tertimpa musibah.

Kemanusiaan adalah Panggilan Moral

Saya meyakini bahwa kerja kemanusiaan bukan sekadar aktivitas sosial. Ia merupakan panggilan moral.

Sebagai alumni, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak melupakan masyarakat setelah meninggalkan ruang-ruang akademik.

Ilmu yang pernah kita dapatkan harus memiliki jejak.

Gelar yang kita sandang harus memiliki makna.

Dan almamater yang kita banggakan harus tercermin melalui karya dan pengabdian.

Karena itu, saya ingin melihat KPI terus melahirkan alumni yang tidak hanya unggul dalam kompetensi, tetapi juga unggul dalam karakter dan kepedulian.

Alumni yang berani turun ke pelosok.

Alumni yang mau mendampingi masyarakat.

Alumni yang hadir ketika bencana terjadi.

Alumni yang menggunakan media untuk menyebarkan kebaikan.

Dan alumni yang menjadikan ilmu sebagai jalan untuk memberikan manfaat.

Sebagaimana pesan yang saya yakini:

«“Saya yakin bahwa keunggulan, kerja nyata, dan panggilan kemanusiaan adalah bagian dari keyakinan kami sebagai alumni untuk selalu hadir di masyarakat dan memberikan manfaat.”»

KPI Unggul Harus Menjadi Gerakan

Kini, predikat Unggul harus kita maknai sebagai awal dari perjalanan yang lebih panjang.

KPI Universitas Muhammadiyah Makassar harus terus mendorong lahirnya alumni yang mampu menjawab tantangan zaman. Bukan hanya menjadi pengguna ilmu, tetapi menjadi pencipta gagasan dan penggerak perubahan.

Dari kampus, lahir ilmu.

Dari ilmu, lahir kompetensi.

Dari kompetensi, lahir pengabdian.

Dan dari pengabdian, lahirlah kebermanfaatan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang alumni bukan semata-mata seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Dari dakwah pelosok hingga gerakan kemanusiaan di Indonesia Timur, alumni KPI sedang menunjukkan bahwa ilmu komunikasi dan dakwah dapat menjelma menjadi gerakan nyata.

KPI Unggul harus melahirkan alumni unggul. Dan alumni unggul adalah mereka yang tidak hanya mampu berbicara tentang perubahan, tetapi bersedia turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Oleh: Muh Imran, S.Sos. Alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *