LENTERA.PRESS, Nusa Tenggara Timur — 25 Agustus 2026, Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) mengambil bagian dalam respons tanggap darurat bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Melalui tim dan relawan di lapangan, AMCF memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak dengan pendekatan yang mencakup kebutuhan pengungsian, pangan, air bersih dan sanitasi, kesehatan, pendidikan, hingga dukungan psikososial.
Gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores dan mendorong masyarakat untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Dalam kondisi tersebut, kebutuhan masyarakat tidak hanya berupa bantuan logistik, tetapi juga tempat perlindungan sementara serta layanan dasar yang dapat mendukung kehidupan pengungsi selama masa tanggap darurat.
Dalam responsnya, AMCF menjangkau masyarakat di tiga wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Manggarai Timur.
Di Kabupaten Nagekeo, intervensi dilakukan di Dusun Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, serta Desa Mbay, Kecamatan Aesesa. Di Kabupaten Ngada, bantuan menjangkau Desa Sambinase, Kecamatan Riung, sedangkan di Kabupaten Manggarai Timur, intervensi dilakukan di Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar.
Secara keseluruhan, respons AMCF ditujukan kepada 1.433 jiwa berdasarkan sasaran penerima manfaat yang telah dipetakan di wilayah intervensi, dengan dukungan 20 personel dan relawan di lapangan.
Tim tersebut terdiri dari personel dan relawan dengan berbagai latar belakang keahlian, antara lain pendidikan, kesehatan, teknisi, serta relawan yang menangani operasional dapur umum dan penyediaan makanan. Komposisi multidisiplin ini memungkinkan AMCF memberikan respons yang tidak hanya berfokus pada distribusi bantuan, tetapi juga mendukung kebutuhan masyarakat secara langsung di lokasi terdampak.
Membangun Shelter Pengungsian yang Lebih Terkoordinir
Salah satu pendekatan yang dilakukan AMCF adalah berupaya membangun satu titik shelter pengungsian yang lebih terkoordinir. Konsep ini ditujukan agar masyarakat penyintas dapat memperoleh akses terhadap berbagai layanan dan bantuan secara lebih terpusat, sehingga proses pelayanan, pendataan, distribusi bantuan, serta pemantauan kebutuhan pengungsi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dengan adanya shelter yang terkoordinir, AMCF dapat mengintegrasikan berbagai bentuk layanan dalam satu kawasan, mulai dari tempat tinggal sementara, dapur umum, distribusi air bersih, fasilitas sanitasi, layanan psikososial, hingga dukungan bagi anak-anak.
Untuk mendukung kenyamanan dan keamanan pengungsi, setiap tenda yang didirikan AMCF juga dilengkapi dengan instalasi listrik. Penyediaan instalasi ini diharapkan memberikan akses penerangan yang lebih baik bagi masyarakat selama berada di shelter, terutama pada malam hari, sekaligus mendukung aktivitas dasar pengungsi di dalam tenda.
Dukungan Tempat Tinggal dan Perlindungan
Untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal sementara, AMCF menyediakan 99 unit tenda dengan berbagai ukuran, yaitu 3×4 meter, 4×6 meter, dan 5×7 meter. Sebanyak 52 unit dialokasikan untuk wilayah Nagekeo dan 47 unit untuk wilayah intervensi lainnya.
Selain tenda, AMCF juga menyediakan 200 unit tarpaulin berukuran 4×6 meter sebagai perlengkapan pendukung perlindungan masyarakat selama masa darurat.
Setiap tenda yang menjadi bagian dari shelter AMCF dilengkapi instalasi listrik, sehingga kawasan pengungsian dapat memiliki penerangan dan dukungan kelistrikan dasar yang lebih memadai.
Dapur Umum dan Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Pemenuhan kebutuhan pangan menjadi salah satu bagian penting dalam respons AMCF. Dapur umum dioperasikan untuk mendukung kebutuhan makanan masyarakat terdampak, dengan melibatkan relawan yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan dan penyediaan makanan di situasi darurat.
Untuk mendukung kebutuhan istirahat masyarakat di lokasi pengungsian, AMCF juga menyiapkan 100 selimut dan 100 matras, yang masing-masing terdiri dari 50 buah untuk setiap wilayah sasaran utama.
Air Bersih, Sanitasi, dan Sarana Dasar
AMCF turut memberikan perhatian terhadap kebutuhan air bersih dan sanitasi masyarakat selama berada di pengungsian. Bantuan mencakup distribusi air bersih, pembangunan MCK darurat, serta penyediaan tempat wudhu minimalis.
Penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya AMCF untuk menciptakan lingkungan pengungsian yang lebih layak, bersih, dan mendukung kesehatan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Dukungan untuk Bayi, Anak, dan Pendidikan
Kelompok rentan, khususnya bayi dan anak-anak, menjadi bagian penting dalam respons AMCF. Sebanyak 60 paket Baby Kit disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan bayi dari keluarga terdampak.
AMCF juga menyediakan 100 paket Herbal Kit untuk mendukung kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Di sektor pendidikan, sebanyak 200 paket School Kit disiapkan untuk anak-anak terdampak. Bantuan ini diharapkan dapat membantu anak-anak tetap memiliki perlengkapan belajar meskipun aktivitas mereka terdampak oleh kondisi bencana.
Dukungan Psikososial bagi Penyintas
Selain kebutuhan fisik, kondisi pascabencana juga dapat memberikan tekanan psikologis bagi masyarakat, terutama anak-anak. Karena itu, AMCF memasukkan dukungan psikososial sebagai bagian dari respons kemanusiaannya.
Kegiatan psikososial didukung dengan penyediaan 100 paket snack untuk kegiatan konseling. AMCF juga menyiapkan 200 paket toiletries untuk membantu memenuhi kebutuhan kebersihan pribadi masyarakat di lokasi terdampak.
Melalui pendekatan tersebut, AMCF berupaya menghadirkan respons kemanusiaan yang lebih menyeluruh dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat mulai dari tempat tinggal sementara, pangan, air bersih, sanitasi, kesehatan, pendidikan anak, hingga pemulihan psikososial.
Relawan Multidisiplin di Lapangan
Sebanyak 20 personel dan relawan terlibat dalam pelaksanaan respons AMCF. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan keahlian, termasuk bidang kesehatan, pendidikan, teknis, serta operasional dapur umum.
Relawan kesehatan mendukung kebutuhan kesehatan masyarakat, relawan dengan latar belakang pendidikan membantu kegiatan yang berkaitan dengan anak dan pendidikan, sementara tenaga teknis mendukung pembangunan serta pengoperasian sarana darurat, termasuk fasilitas shelter. Di sisi lain, relawan dapur umum memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi selama masa tanggap darurat.
Kolaborasi berbagai keahlian tersebut menjadi bagian dari upaya AMCF untuk menghadirkan layanan kemanusiaan yang terintegrasi dan sesuai dengan kebutuhan penyintas di lapangan.
“Dalam kondisi bencana, kebutuhan penyintas sangat beragam. Karena itu, kami berupaya tidak hanya memberikan bantuan logistik, tetapi juga membangun satu titik shelter pengungsian agar pelayanan kepada penyintas dapat lebih terkoordinir. Di dalamnya kami mengintegrasikan tempat tinggal sementara, dapur umum, air bersih, sanitasi, dukungan psikososial, serta fasilitas dasar lainnya. Setiap tenda juga kami lengkapi dengan instalasi listrik untuk mendukung kebutuhan penerangan dan aktivitas dasar para penyintas,” ujar Ahmad Bayhaqi, Koordinator Regional Timur Kemanusiaan AMCF.
AMCF akan terus memantau kondisi masyarakat di wilayah terdampak dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di lapangan untuk memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan.
Melalui respons ini, AMCF menegaskan komitmennya untuk terus hadir bersama masyarakat terdampak bencana, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga dalam menciptakan lingkungan pengungsian yang lebih aman, terkoordinir, dan layak bagi para penyintas selama masa tanggap darurat.

