CIPAYUNG PLUS GOTONG ROYONG DKI JAKARTA GELAR DISKUSI PUBLIK “SEMANGAT SUMPAH PEMUDA”, TELAAH PEMERINTAHAN PRABOWO-GIBRAN DALAM MENJALANKAN ASTA CITA
LENTERA.PRESS, Jakarta — Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda, Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk “Semangat Sumpah Pemuda: Menelaah Pemerintahan Prabowo-Gibran dalam Menjalankan Program Asta Cita” pada Rabu (28/10/26) di Gedung Sangkrini, Jakarta Timur.
Forum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan pemuda untuk melihat secara lebih objektif perjalanan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam menerjemahkan Asta Cita ke dalam kebijakan dan program yang dirasakan masyarakat.

Kegiatan dibuka oleh Andre, Ketua Umum KAMMI Jakarta Raya sekaligus Kordinator Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta. Dalam pembukaannya, Andre terlebih dahulu mengajak seluruh peserta membacakan ikrar Sumpah Pemuda sebagai pengingat bahwa persatuan, kepemudaan, dan tanggung jawab kebangsaan merupakan bagian penting dari perjalanan Indonesia.
Dalam sambutannya, Andre menyampaikan bahwa momentum Sumpah Pemuda harus menjadi ruang untuk memperkuat kehidupan demokrasi dan partisipasi masyarakat sipil.
“Demokrasi tidak boleh berhenti pada bilik suara, tidak boleh selesai setelah pergantian kepemimpinan, dan tidak boleh hanya menjadi legitimasi bagi kekuasaan. Demokrasi harus terus hidup melalui partisipasi rakyat, keterbukaan pemerintah, serta keberanian masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik dan mengawasi jalannya pemerintahan,” ujar Andre.
Menurutnya, tema mengenai pelaksanaan Asta Cita penting untuk dibahas karena pemerintahan Prabowo-Gibran membawa sejumlah agenda besar pembangunan nasional, mulai dari penguatan ideologi Pancasila, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, pertahanan dan keamanan, hingga pembangunan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Namun, Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta menilai bahwa cita-cita pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari narasi dan perencanaan kebijakan.
“Cita-cita politik tidak cukup hanya diukur dari seberapa baik ia disampaikan dalam pidato, seberapa megah ia dirumuskan dalam dokumen kebijakan, atau seberapa kuat ia dipromosikan kepada masyarakat. Cita-cita harus diuji melalui pelaksanaan, diukur melalui hasil, dan dinilai dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh rakyat,” lanjut Andre.
MAHASISWA HARUS MENGUJI, BUKAN SEKADAR MENGKRITIK
Dalam forum tersebut, Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mahasiswa tidak semestinya hanya hadir ketika demonstrasi berlangsung ataupun menjadi pelengkap dalam agenda seremonial. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk membaca realitas sosial, menguji kebijakan pemerintah, menyuarakan kepentingan masyarakat, sekaligus memberikan gagasan sebagai bagian dari solusi atas persoalan bangsa.
Karena itu, Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta menilai hubungan antara pemerintah dan masyarakat sipil, termasuk mahasiswa, tidak harus ditempatkan dalam posisi yang selalu berhadap-hadapan.
Program pemerintah yang baik patut diapresiasi, sementara program yang belum maksimal harus diberikan masukan, dikritisi, dan didorong agar semakin tepat sasaran.
Salah satu program yang mendapat apresiasi dalam forum adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dinilai memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok yang membutuhkan.
Perhatian terhadap masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) juga dipandang penting karena pembangunan tidak boleh hanya berpusat pada wilayah yang telah memiliki akses dan fasilitas yang relatif lebih baik.
“Program MBG sudah baik dan tentu harus kita apresiasi. Tetapi yang juga penting adalah bagaimana pelaksanaannya terus diperbaiki agar manfaatnya benar-benar sampai kepada masyarakat. Wilayah 3T menjadi contoh bahwa negara harus hadir untuk masyarakat yang selama ini berada di wilayah terpinggirkan,” kata Andre.
Selain MBG, keberadaan Sekolah Rakyat juga dinilai sebagai salah satu langkah yang patut mendapatkan perhatian positif karena memiliki potensi membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap pendidikan.
Bagi Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta, pendidikan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Karena itu, berbagai kebijakan pendidikan harus terus dikawal agar tidak hanya berhenti sebagai program, tetapi benar-benar memberikan kesempatan belajar yang lebih luas bagi masyarakat.
KRITIK SEBAGAI BAGIAN DARI TANGGUNG JAWAB KEBANGSAAN
Diskusi publik ini pada akhirnya menegaskan bahwa memberikan apresiasi dan menyampaikan kritik bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta berpandangan bahwa masyarakat sipil harus mampu melihat pemerintahan secara objektif: yang baik diapresiasi, yang kurang diperbaiki, dan yang menyimpang dari kepentingan rakyat harus dikritisi.
Sikap tersebut menjadi penting agar gerakan mahasiswa tidak terjebak pada kritik yang bersifat instan maupun dukungan yang bersifat membabi buta.
Dalam momentum Sumpah Pemuda, Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta mendorong agar pemuda dan mahasiswa kembali menempatkan dirinya sebagai bagian dari kekuatan moral dan intelektual bangsa yang mampu berdialog, menguji kebijakan, membangun gagasan, serta ikut mengawal jalannya pembangunan.
Forum ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun tradisi gotong royong antarelemen mahasiswa dan pemuda, dengan menjadikan perbedaan latar belakang organisasi sebagai kekayaan untuk membangun gagasan bersama bagi Indonesia.
Cipayung Plus Gotong Royong DKI Jakarta akan terus mendorong ruang dialog yang terbuka, kritis, dan konstruktif sebagai bagian dari tanggung jawab pemuda dalam mengawal perjalanan bangsa.
Semua Buat Semua, Bergerak Bersama untuk Indonesia.

